Langsung ke konten utama

Sekeping hati yang terluka

Merah
darah mengalir deras
membasahi luka yang tak pernah kering
di hati yang hampa

bercak merah…
tak pernah pudar
ia menjadi sejarah duka
yang tak akan lupa

waktu yang terus menggerus
tak kenal lelah mengejek ketus
memberi beban berat
yang kian sarat
di hati yang berkarat
membelit asa dengan kuat

entah…
sekeping hati yang luka
akan tetap memendam luka
yang tak bosan disiram garam

luka…
dan tak pernah mengering
terus dialiri darah dan air mata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I HATE YOU

AKU BENCI KAMU SEMUA........KALIAN JAHAT............. KALIAN PECUNDANG.......YANG TIDAK PUNYA PERASAAN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPAPUN YANG MERAMPAS HAKKU TIDAK AKAN KU BIARKAN ITU TERMASUK KAMU.... ALLAH KAU JAHAT PADAKU DARI DULU KAU SELALU MERAMPAS APA YANG AKU PUNYA DARI HAKKU,KELUARGAKU,IMPIANKU, DAN JUGA RASA YANG TIDAK DI MILIKI OLEH ORANG LAIN.... AKU CAPEK YA ALLAH YA ALLAH AKU TIDAK MEMPUNYAI SIAPA-SIAPA LAGI APA GUNANYA AKU INI YANG TAK BERDAYA I HATE YOU

Selamat ulang tahun AA

Di hari bahagia ini ku ingin ucapkan kata sederhana semoga kamu selalu dalam lindunganNya diberikan kesehatan, murah rezeki, dan kemudahan hidup met ultah papi.. tak kan berhanti ku mencintaimu seperti tulus cintamu untukku hingga nanti saat kita tua ku kan tetap setia mendampingimu semoga Tuhan mengizinkan untuk kekalnya cinta kita selamat ulang tahun sayank . . harumnya bungan dan kicauan burung seperti merangkai sebuah melodi indah mengiringi tiupan lilin yang kau hembuskan di kue ulang tahunmu berbahagialah kamu karena masih dapat meniti indahnya hidup setahun ini, semoga ditahun mendatang kebahagiaan selalu kita lalui bersama, HBD my love . . hal terindah dalam hidupku adalah ketika aku masih diberi kesempatan untuk hidup bersamamu. seiring jalannya waktu, semoga cinta kita selalu diberkahi olehnya. dan dengan bertambahnya usiamu, semoga kamu makin dewasa dalam membawa hubungan kita ini, aku akan setia menemani setiap langkahmu, HBD sayank

Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar. “Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?