Langsung ke konten utama

Papa ku Sayang

Papa...
Jangan memandangku dengan bisu
Katakanlah sesuatu
Marahlah seperti saat aku kecil dulu
pukul lah aku dengan kayu bambumu
tapi Papa bicaralah...
Jangan hanya diam dan memandang ku
penuh kekosongan.

Tolong Papa jangan meneteskan air matamu
karena aku tidak menagis
aku gadis papa yang kuat
dan biarkan airmataku menggalir untukmu papa

Papa,
aku rindu dengan hukumanmu papa
Katakan apa yang harus aku lakukan?
Menebus salahku
Membayar dosaku
Menyembuhkan luka di hatimu

Papa peluklah anak gadismu yang bandel ini
Jangan katakan Papa mengatakan sudah lupa dengan diriku
Cinta dan kasih sayangmu sampai detik ini
masih aku rasakan, kecupan di pipiku masih pun aku rasakan
Membuatku makin rindu kepadamu papa

Pandangan lah anak gadismu ini
dengan rasa bangga,
ternyata anakmu kuat tanpa papa di sisiku

I LOVE Y PAPA

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tentang Perpisahan

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Ridho Rhoma-Muskurane terjemahan Indonesia

Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar.
“Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?