8 Jun 2009

DUKA YANG BISU

Di Sungai Siput adalah salah satu desa di Grogot di daerah pesisir tempat yang memberiku kesempatan untuk membuatku memahami makna kehidupan setelah tahun - tahun berlalu, tidak ada lagi yang tersisa dari mimpi yang indah tersebut selain kenagan pahit yang berkepak – kepak seperti sayap yang tak kelihatan di sekelilingku, memahami di dalam hatiku dengan duka, dan membawa air mata di dalam keheningan malam, lampu pelita dan obat nyamuk yang setiap malam menemaniku, dengan pancaran sinar lampu pelita ku mengenang masa ku yang telah lalu, aku seperti tawanan yang mengenang jeruji penjara serta belengguhnya, mungkin di antara umat manusia tidak seperti aku, bebas dari pembatasan serta keprihatinan, tetapi kusebut tahun-tahun itu masa duka yang bisu yang jatuh seperti benih ke dalam hatiku dan tumbuh bersamanya dan tak dapat menemukan jalan ke keluar.

Di hari - hariku di temani oleh burung yang terbang bebas tidak seperti burung di tempat tinggalku yang sebagian hidup dalam sangkar, yang begitu di nikmatinya seperti tidak ada beban dalam ke hidupannya, ular, orang utan yang bebas lalu lalang menikmati kebebasanya pula. Tidak seperti aku terkadang timbul rasa cemburu karna melihat ciptan TUHAN selain Manusia menikmati hidup dengan bahagia. Dan hariku - hariku menatap pohon – pohon yang di selimuti oleh kemulian dan besar, berusaha menjangkau langit, dan suara merdu air yang keluar dari kanal (pintu air).

Aku di sini ku merindukan kekasihku sampai melukai rohku, yang terpenjara dalam kegelapan kerinduan kasih sayang seperti burung falkon menderita dalam kandangan nya ketika sekawan burung terbang bebas di langit yang luas. Setiap kali aku pergi ke menyelusuri jalan aku kembali dalam keadaan kecewa, tanpa memahami penyebabnya setiap aku memandang langit kelabu, aku merasa hatiku ciut. Setiap kali ku dengar suara burung dan hembusan angin yang menyapa wajahku aku menderita tanpa memahami alasan pederitaanku itu.

Sayangku...........kehadiranya seperti sangat menghancurkann jiwaku; tetapi anak peka itu yang sangat banyak merasakan kehadiranmu di sisinya, tidak banyak tahu tentang diriku inilah mahluk yang paling malang di bawah matahari. sebab aku tercabik – cabik oleh dua kekuatan. .


Kesendiarianku di sini memiliki tangan-tangan yang halus seperti sutra, tetapi dengan jemari – jemari yang kuat mencengkeram hatiku dan membuat hatiku sakit dan duka. kesendirianku adalah sekutu duka sekaligus sahabat kegirangan rohani. Jiwa ku yang sedang mengalami gangguan duka ini adalah seperti setangkai bunga bakung putih yang baru saja merekah. Ia gemetar di hadapan angin dan membuka hatinya bagi fajar dan melipat daun-daunya kembali ketika tidak memiliki pangalih perhatian, kehidupaku akan menajadi seperti penjara sempit di mana ia hanya melihat sarang laba- laba dan hanya mendengar serangga merayap.

SAYANG.....

2 komentar:

  1. makasih atas kunjungannya.... saya juga msih dalam tahab belajar... kalo mau ikutin tutorial di http://kolom-tutorial.blogspot.com atau www.o-om.com atau juga di www.kendhin.com semua lengkap disana.... terus silaturahmi ya.....

    BalasHapus
  2. terima kasih atas mampir ke blog leha

    BalasHapus