Langsung ke konten utama

Stressss Berat

Sesuai dengan judul blogku di atas, itu memang benar bulan ini ( bulan September ) sangat dan sangat membuat aku stres berat, di karenakan pekerjaan yang begitu menumpuk sehingga kesehataanku menjadi drof, mungkin orang - orang di sekelilingku, menganggap aku sehat, di karenakan aku kelihatan press. tetapi mereka salah, tapi mala sebaliknya, keinginanku ingin menagis dan merintih atas kesakitanku agar aku puas, dan hari esok aku bisa menikmati hari -  hari baruku, tetapi di mana tempat yang bisa membuat aku menagis, aku tidak mau terlihat habis menagis oleh orang di sekelilingku, itu tidak akan terjadi, 

hanya kepada Tuhankulah aku mengadu segala apa yang membuat aku drof dan selalu ingin menagis, ke pantai itu? itu sudah jarang aku lakukan, 
curhat kepada teman? aku tidak mau teman aku tau apa yang aku rasakan.

beberapa hari ini, perasaan aku gelisa dan tidak tenang, tiba - tiba aku teringat Bapakku, semasa hidupnya dia selalu berzikir sampai - sampai tasbih di tangannya tidak pernah lepas, itu yang aku lakukan semalam mengikutin kebiasaan bapakku, aku ucapakan (laa ilaaha illallah) atau yang lebih dikenal dengann kalimat tauhid
YA ALLAH ....  Mengapa KAU menciptakan sekeping hati ini, begitu rapuh dan mudah terluka, Saat dihadapkan dengan masalah dan pekerjaan begitu kuat dan kokoh, dan di dalamnya Menyisakan kegelisahan akan Menghimpun berjuta asa. Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira .... Mengapa KAU  menciptakan kegelisahan itu padaku. Dalam jiwa menghimpit bayangan menyesakkan dada dan tak berdaya melawan gejolak yang menerpa. YA ALLAH pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini? mengapa kau hanya diam katakan padaku sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini. Sesuatu yang dibutuhkan raga ini  Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali dan tertusuk duri yang tajam .... Hanya bisa meratap .... Meringis .... Mencoba menggapai sebuah pegangan .... 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tentang Perpisahan

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Ridho Rhoma-Muskurane terjemahan Indonesia

Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar.
“Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?