Langsung ke konten utama

Aku Marah

Aku bertanya pada diriku sendiri dan menjawabnya pun sendiri, apakah aku termasuk salah satu orang gila atau kurang waras, aku rasa itu tidak?????. karena aku masih bisa berpikir, mengambil keputusan, berbicara layak seperti orang yang ada di sekitarku.
Tuhan......
aku tidak mengerti tujuan kau hidupkan aku didunia ini apa?
Tuhan......
mengapa kau selalu mengambil apa yang aku miliki
Tuhan.....
aku pernah melontarkan sebuah kata padamu " KAU TIDAK ADIL PADAKU"
itu kata 13 tahun yang lalu, AKU TIDAK PERNA LUPA DENGAN KATA ITU.
mengapa sampai detik inipun KAU perlakukan aku seperti itu. Aku tau, aku dan manusia yang lainya, segala sesuatu, Tuhan adalah awal dari segalanya, Tuhan adalah zat yang memulai segala sesuatu, Tuhan adalah awal dan akhir segala perjalanan, dan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan pikiran manusia. tetapi mengapa kau rebut kebahagianku terus dengan cara yang sama, dosa apa yang telah aku perbuat?
hanya kata pasrah saja yang dapat aku ucapkan atas ketidak adilan yang aku dapatkan. Bukan berarti aku kalah dengan keadaan. Hidup itu butuh perjuangan, dan hanya orang yang mampu bertahan diatas badai yang akan menikmati arti kehidupan. Hidup ini hanya singkat, sayang jika aku hanya di isi dengan rasa putus asa dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tentang Perpisahan

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Ridho Rhoma-Muskurane terjemahan Indonesia

Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar.
“Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?