7 Mei 2009

PERJALANAN KU 2007

Kepergianku adalah suatu kebebasan untuk menghirup udara segar yang tak pernah aku hirup sebelumnya, Kepergianku menjalankan tugas yang di berikan kepadaku di daerah Desa Kerang dili bagian dari Kabupaten Grogot (Kal-Tim). Kira – kira 40 kl dari batu licin (bagian dari Kal-sel).

Aku meninggalkan Kota Balikpapan sekitar jam 12 siang dan sampai di desa tujuan jam 12 malam, kecepatan mobil km 80 s/d 100 selepas kota grogot pemandangan masih banyak hutan yang masih perawan dan perkebunan kelapa sawit dan jalan yang kami lewatin sangat kecil, jika ada mobil yang berpapasan arah jalan harus ada yang mengala salah satu. Sebelum tikungan jalan harus membunyikan kelakson mobil ampun.

Sesampainya rumah tujuan pukul jam 12 malam, aku masuk ke kamar ingin istirahat badanku capek dan di campur pusing, ku rebahkan diriku di atas tikar jerami dan berbantalkan ransel, tak lupa aku menelpon belawan jiwaku seperti lagunya D.O.T,

keesokan hariannya aku bagun pagi ya ampun udaranya dingin sekali aku baru sadar ternyata rumah yang aku tempati di atas pengunungan dan pemandanganya indah sekali beda tepat tinggalku. Suatu hari aku jalan ya ampun pemandangan yang hijou aku berdiri di atas salah satu gunung yang tinggi aku berteriak ku lepaskan beban yang menganjal di hatiku satupun orang tak ada yang mendengar. Aku bebas ya ALLAH.

Di Desa Kerang dili adalah Desa Transmigrasi yaitu pembuangan waktu jaman pak Suharto. Listrik hanya nayala pukul 18:00 dan mati besok pagi pukul jam 7. dan jarin

gannya pun adanya di daratan yang tinggi, dan jalannya berdebu dan berbatu. Desa ini sepertinya jarang di sentuh tangan pemerintah. tapi asik si masih alami. dan aku juga sempat belajar bahasa daerah yaitu paser, jawa dan bahasa saya sendiri yaitu bugis lucu yach jauh baget belajar bahasa daerah saya sendiri, di desa tersebut mereka memakai bahasa daerah masing–masing tapi moyoritas bahasa yang sering di gunakan adalah jawa dan paser. Aku tinggal di rumah orang Bugis tapi mereka pintar bahasa paser dan mereka bertahun- tahun tinggal desa tersebut, dan aku sempat belajar membuat atap dari daun nipah dan tidak semudah yang pernah aku banyangkan, membuat timbah sumur dari daun nipah yang kering, lampit yang terkenal tikar terbuat dari rautan yang ciri khas tikar dari kalimatan.

Beberapa waktu telah silam, ada suatu masalah yang terjadi di lapangan antara pemerintah setempat dan kepala adat suku paser desa yang aku tempati, di salah satu malam kami di undang untuk siratuh rohim dan membahas perselihan di antara kami selaku tamu, pemerintah setempat (Perikanan) dan kepala suku, yang membinggunkan diriku mereka memakai bahasa daerah, dan aku heran di sana ada pemerintah yaitu kepala desa, dan pelindung masyarkat seperti (Polisi dan Tentara). yang membinggunkan diriku setiap ada perusahaan yang masuk harus sepengatahuan kepala suku, apa gunanya pemerintah yang telah ditugas dari BUPATI Grogot jika kepala suku masih ikut campur. Dan kami sempat melakukan perjalan di salah satu desa yang terpencil masa ALLAH ada sekitar 35 kilo yang mesti kita tempuh kurang lebih 4 jam yang kita lalui hutan yang masih alami (yang belum di sentuh tanggan pemerintah) tetapi tidak lama kemudian aku melihat beberapa manusia dan sebuah mobil truk sepertinya mereka ingin menebang pahon– pohon yang ada di dalam hutan untuk kepentingan pribadi dan perut keluarga mereka, kemana pemerintah yang di tugaskan untuk mengawasi hutan–hutan. Dan di suatu tempat aku semapat melihat ada sebuah pohon besar untuk penyembahan atau di katakan tempat sholat, melakukan ritual. Ternyata bukan zaman dulu az atau cerita-cerita di TV, ternyata sampai sekarang masi juga ada.

Sedih rasanya meninggalkan desa Kerang Dili banyak hal yang aku dapat di sana, dan juga dapat membuat pikiranku sedikit dewasa dari sebelumnya. Mudah – mudahan ALLAH masih menginjikan aku untuk kembali untuk berkunjung ke rumah pak Abdullah dan rumahnya Bapak Agus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar