Langsung ke konten utama

Terlalu berlebihan diriku?

Kadang aku merasa semakin hari aku semakin berlebihan dalam sebuah hal yang bernama “cinta”. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang pada kenyataannya aku berlebihan. Lalu kenapa aku bisa berpikir bahwa aku berlebihan dalam hal ini?

Tampaknya aku terlalu sering membicarakan dia dengan orang lain. Tapi jujur aja, aku membicarakan dia karena aku ga ingin memendamnya di dalam hati dan pikiranku sendiri. Aku suka padanya (atau bolehkah aku bilang bahwa aku sayang padanya?), tidak untuk dijadikan suatu rahasia dan penyangkalan. Tapi tentu saja aku hanya membicarakan ini dengan orang-orang yang benar-benar kukenal, tidak ke sembarang orang. Apakah aku memang terlalu sering membicarakan dia sampai aku tampak menyebalkan?

Ataukah aku terlalu berlebihan kalau menulis cerita mengenai dia dalam blog ini?

Entahlah, rasanya pikiran ini seperti makin memberatkan diriku saja. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak memikirkan yang seharusnya ga kupikirkan. Bahkan isi pikiranku pun terlalu berlebihan.

Pandangan untuk melihat dirinya dalam hatiku tidak jarang tertutup oleh pikiran-pikiran itu. Ingin rasanya membuang jauh semua pikiran-pikiran itu supaya aku bisa benar-benar melihat dia dalam hati ini dan juga melakukan sesuatu yang nyata dan berarti baginya.

Hanya itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tentang Perpisahan

Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

Ridho Rhoma-Muskurane terjemahan Indonesia

Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar.
“Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?